Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
“Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
“To, kenapa kamu? Berkelahi?”
Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
“Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!”
Kebiasaan Makan di Pesawat
Diposting oleh Firda Sartika di 19.51
Kebiasaan makan dipesawat terbang …….
Bila selesai makan, garpu dan sendok :
1. disilangkan = penumpang dari Amerika
2. sejajar = penumpang dari benua Eropa
3. Sejajar diluar piring = penumpang dari Jepang
4. hilang = penumpang dari Indonesia
Murid SD Dengan Gurunya
Diposting oleh Firda Sartika di 19.46
Anto yang duduk dibangku SD ditanya Bu Fanny, Gurunya
Bu Fanny : Anto, ada 5 bebek yang lagi mencari makan disawah. Kalo ditembak pemburu,
kena satu yang tinggal berapa ?
Setelah berpikir sejenak, si Anto menjawab “Ga ada sisanya bu ”
Bu Fanny bertanya “kenapa ga ada sisanya ?”
Si Anto menjawab” yang lain terbang semua karena kaget”
Bu Fanny tersenyum bijak dan berkata “yah, sebetulnya bukan itu jawabannya. tapi saya suka cara
berpikir kamu ”
Bu Fanny : Anto, ada 5 bebek yang lagi mencari makan disawah. Kalo ditembak pemburu,
kena satu yang tinggal berapa ?
Setelah berpikir sejenak, si Anto menjawab “Ga ada sisanya bu ”
Bu Fanny bertanya “kenapa ga ada sisanya ?”
Si Anto menjawab” yang lain terbang semua karena kaget”
Bu Fanny tersenyum bijak dan berkata “yah, sebetulnya bukan itu jawabannya. tapi saya suka cara
berpikir kamu ”
Labirin Kecil
Diposting oleh Firda Sartika di 19.06
Ipang yang paling bersemangat, apalagi pada baju-baju siswa perempuan. Ia salah satu teman sekelasku yang berhasil membuat rekor terbanyak dijemur di tengah lapangan sepanjang sejarah lima belas tahun berdirinya MTs Al-Islamiyah. Namanya terpampang besar-besar di papan pengumuman sekolah sebagai siswa yang memiliki catatan datang terlambat paling banyak dan sempat terancam dikembalikan ke orang tuanya. Di sini, di MTs Al-Islamiyah orang pantang menyebut kata-kata dikeluarkan. Tabu dan memalukan, benar-benar terhina jika terhukum demikian.
“Ustad, sini mana baju lu, biar gue buatin kata mutiara yang nggak bakal elu lupain seumur hidup!” ucapnya sambil menarik bajuku dari belakang, kemudian mulai mencorat-coret di bagian yang masih kosong.
“Jangan kata-kata kotor ya!” sungutku cepat takut-takut ia menulis yang macam-macam.
“Tenang, nggak pantes kalau di baju ini mah.”
Ipang tertawa, tangannya masih gesit menulis tiap kata. Rasanya sangat panjang, aku begitu tidak sabar ingin segera membuka baju untuk membacanya.
Riuh ramai di sekitarku dengan cepat redam, lalu tiba-tiba sunyi. Beberapa anak berlarian ke segala arah hendak menyelamatkan diri. Aku dengan cepat menengadahkan wajahku yang dari tadi menunduk menunggu Ipang selesai dengan esaynya. Mataku terbelalak mengikuti desir nadi yang meningkat dengan cepat. Jantungku berseragam dengan urat di pergelangan tanganku itu, kini organ terpenting di bagian dada sebelah kiri itu memompa darahku makin cepat dan tak terkendali. Wajahku tiba-tiba pucat dan kelu.
Pak Muksin berdiri melotot dengan tatapan yang sangat menakutkan bersama seorang petugas keamanan yang berdiri di sebelahnya dengan sebuah pentungan dari rotan terjinjing di tangan kirinya. Mereka menatapku dan yang lainnya yang kini hanya bisu dan mematung terjerat sorot nyinyir guru BP itu. Ipang juga ternyata tidak sempat menyelamatkan diri, ia berdiri disampingku sambil meremas-remas bajuku gemetaran. Sempat kulirik wajahnya yang kini mulai basah oleh keringat dingin.
“Jongkok semua!” teriak Pak Muksin.
Kami beringsut tunduk, kaki-kaki ini tiba-tiba begitu lemah dan gemetaran. Tak sanggup aku membayangkan kejadian itu. Seluruh tulang seperti mencair dan meleleh.
“Pak, catat nama-nama mereka. Lalu giring anak-anak berandal ini ke tengah lapangan sekolah. Biar mereka tahu bagaimana akibat dari perbuatan mempermalukan diri sendiri,” dengan lantang dan tanpa keraguan sedikit pun Pak Muksin menjatuhkan vonis pertama untuk kami.
Kami terdiam dalam kepasrahan sambil terus berdoa semoga hukuman yang akan diterima tidak akan membuat kami kehilangan kesempatan mendapatkan ijasah. Kini hanya tersisa belasan siswa termasuk aku dari sekitar tiga puluhan orang. Betapa beruntung mereka yang sempat menyadari kehadiran Pak Muksin sebelum tertangkap basah. Kami yang tinggal adalah anak-anak naas yang memang tidak punya cukup otak untuk tidak melakukan ritual coret-coretan pasca ujian. Kami begitu tuli, sehingga tetap melakukannya.
Padahal sudah ratusan kali, atau mungkin ribuan sejak dimulainya kegiatan belajar mengajar di catur wulan ketiga. Di kelas saat belajar, di kantor saat terhukum, di saat upacara, dan di muhadoroh mingguan dengan jelas dan pasti larangan itu terucap dari mulut setiap guru. Yang paling sering tentu saja Pak Muksin.
“Kalian ini adalah generasi yang dipersiapkan untuk lulus dengan berbekal ilmu pengetahuan yang mumpuni dan akhlakul karimah. Maka sangat tidak pantas jika nanti kalian merayakan keberhasilan lulus dari sekolah ini dengan mencorat-coret baju yang dibeli oleh orang tua kalian dengan keringat dan pengorbanan siang malam. Kalian telah dididik untuk mengerti perbuatan yang layak dan tidak layak dilakukan orang-orang yang terpelajar. Maka sangat bodoh jika kalian masih tetap bersikeras mengikuti tingkah buruk yang mungkin dilakukan siswa-siswa dari sekolah lain itu setiap tahunnya. Siswa Al-Islamiyah diharamkan melakukan coret-coretan. Kalian dengarkan dan camkan, kecuali jika kalian tidak ingin mendapatkan ijasah. Haram bagi saya memberikan ijasah kepada mereka yang melanggar aturan ini!”
Kalimat-kalimat itu terus mengiang-ngiang di kepalaku dan puluhan siswa yang seangkatan denganku selama perjalanan belajar kami menjelang ujian akhir. Tapi dasar otak-otak berandalan, di detik-detik terakhir setan-setan begitu gencar melakukan rayuan-rayuan. Salah satu setan itu adalah Ahmad Arif Ilham alias Ipang. Ia selalu berada di barisan paling depan dan memimpin pasukan setan-setan Al-Islamiyah yang lain. Hari ini satu, besoknya bertambah menjadi lima, kemudian terus berkembang sampai akhirnya pasukan setan itu berjumlah 34 orang. Aku berada di barisan paling terakhir. Ipang begitu kuat mempengaruhi imanku, aku tak kuasa menolak ajakannya mengumpulkan uang untuk membeli pilok dan spidol.
“Tad, kali ini aja. Nggak bakal ada yang nahan ijasah kita. Itu adalah hak, nggak ada pengecualian kecuali diberikan. Rencana ini gue jamin nggak bakal ketauan. Gue sama teman-teman yang lain tahu tempat paling aman. Pokoknya elu bisa bersorak dan nyemprot siapa aja dengan tenang. Bayangin men, baju-baju kita ini bakal full color. Indah kan? Emangnya elu nggak mau bikin kenang-kenangan. Momen kaya gini nggak terjadi setahun sekali. Ayolah!” begitu provokasinya.
Aku menunduk tak berani menolaknya.
“Aha, kita bakalan bikin kalimat-kalimat jurumiyah. Atau kalau elu mau, khat model naskhi atau diwani juga bisa gue buatin. Kalau soal nulis huruf arab, jangan remehin teman lu ini. Elu bisa lihat itu di nilai rapor gue.”
“Tapi…”
“Emangnya elu nggak mau ngerangkai puisi di baju Shara?”
“Apa?”
Tiba-tiba aku berani menatap wajah setan di sebelahku itu penuh antusias. Darahku berdesir-desir ketika mendengar nama yang disebutkannya. Kesadaranku secara misterius lenyap dan dengan bodohnya tubuhku yang seolah tersihir ini bergerak mendekati umpan yang dilemparnya dihadapanku. Mata Ipang berbinar-binar dengan sigap layaknya seekor cheetah Afrika berpengalaman yang siap menerkam banteng muda yang berada hanya lima meter dari tempatnya mengintai.
“Iya,” suaranya terdengar makin bersemangat, “Shara Hilmah Az-Zahra, si pemilik lesung pipit paling indah di Al-Islamiyah, replikanya Cleopatra. Si pelantun shalawat tersyahdu seumpama Sulisnya Hadad Alwi. Gadis berkerudung rapat yang puisi-puisi buat dia cuma berani elu tulis di bagian belakang buku tulis Fiqh, Matematika, Geografi, Fisika, Aqidah Akhlak sama…, gue lupa di halaman berapa buku paket PPKN.”
Aku menunduk bersembunyi dari rasa malu dan sedikit harapan.
“Ini kesempatan terbaik buat dapetin senyumannya di perpisahan nanti. Apa elu nggak mau itu?”
Ipang terus-menerus membuaiku dengan serendengan harapan yang begitu membuai. Alisnya naik turun melengkapi senyum jeleknya yang mirip Joker musuh Batman. Setan memang tidak pernah putus asa.
Aku mengangguk. Tangan kananku bergerak cepat ke arah saku depan baju seragamku dan kemudian menarik dua dari tiga lembar uang ribuan untuk diberikan pada setan itu. Kalimat-kalimat sakti yang terucap dari bibirnya telah menarik ketidakwarasanku ke tingkat paling tinggi. Mengelabui otakku akan resiko besar yang akan kuhadapi nanti, melalap habis kenyataan bahwa terakhir kali kulihat Shara berhamburan dengan muka keruh begitu dihampiri Ipang ketika makan di kantin belakang, dan menyamarkan kesadaran bahwa uang yang baru saja kuberikan itu adalah jatah makan siangku hari itu. Aku sudah buta, lupa dan tuli. Hanya karena nama itu, nama yang selalu ingin kutulis di samping namaku.
Dan ke-irasional-an itu kini membuatku berada di tengah-tengah kerumunan para pesakitan yang jongkok berdesak-desakan di tengah lapangan sekolah menunggu eksekusi, mirip sekali dengan hewan-hewan ternak yang menunggu dengan dungu pisau-pisau tukang jagal menyayat-nyayat leher mereka di hari-hari tasyrik.
Pak Muksin berdiri sangar di hadapan kami yang hanya berani melihat tanah. Kemudian tiga belas siswa laki-laki dan empat orang siswa perempuan dipisahkan. Aku melirik ke arah kumpulan siswi itu, tidak ada si ‘lesung pipit’. Karena memang dari 34 setan hari itu, tak satu pun bernama belakang Az-Zahra.
Aku baru tahu maksud pembagian kelompok ketika dengan lantang Pak Muksin menyuruh kami para laki-laki untuk melepaskan baju seragam yang sudah lebih mirip baju-baju pantai ala Hawaii. Dengan pengalamannya yang segudang, guru BP yang galak itu tahu persis porsi keadilan dalam memberikan hukuman. Jika sekumpulan perempuan itu juga harus menanggalkan seragamnya, maka ketigabelas setan ini akan makin menjadi setan.
Dan jumlahnya akan bertambah tujuh lagi, yakni Pak Muksin, Pak Satpam, tiga orang guru laki-laki, seorang Tata Usaha, serta seorang laki-laki tua penjaga sekolah yang tidak mau ketinggalan menyaksikan tontonan yang hanya pernah terjadi sekali di pelataran Al-Islamiyah ketika aku masih kelas satu di caturwulan dua. Mereka, siswa-siswa kelas tiga yang memilih pulang lebih cepat dan siswa-siswa kelas satu dan dua yang senang karena tidak masuk sekolah hari itu juga pasti akan menyesal seumur hidup karena telah melewatkan sebuah peristiwa bersejarah di Mts Al-Islamiyah itu.
Aku begitu gemetaran. Untuk pertama kalinya setelah aqil baligh, aku bertelanjang dada di hadapan orang lain. Meskipun di rumah, aku hanya berani membuka baju di dalam kamar. Apalagi ada empat orang siswa perempuan yang mengintip malu-malu dari balik kerudung mereka dan beberapa orang guru wanita yang tak henti-henti menutup mulutnya dengan tangan penuh ketidakpercayaan atas apa yang sedang disaksikannya.
Tujuh belas orang murid mereka, yang selama tiga tahun mereka limpahi begitu banyak ilmu, norma, kebenaran-kebenaran, akhlak, semangat untuk menjadi lebih baik sedang melepaskan satu persatu kancing baju seragamnya dan menanggalkan semua rasa malu sebagai sosok-sosok keji yang tuli akan semua peringatan yang telah mereka sampaikan.
Pak Hatsbi, guru favoritku, menunduk tak kuasa sambil bersandar di daun pintu ruang guru. Sempat kulihat matanya berkaca-kaca, ia begitu kecewa. Selama hampir tiga tahun beliau menyirami kami dengan semangat membara para khalifah Islam berabad-abad silam demi mengusung agama ini ke tempat paling mulia. Tubuhku makin gemetar, rasa malu ini makin berada di puncaknya. Melihat semua orang begitu lirih menatap kami, aku makin tertekan. Tertekan rasa takut dan penyesalan tiada terkira. Teganya aku memberikan kekecewaan pada sosok-sosok yang telah mengajarkanku banyak hal-hal baik dalam hidup. Sia-sia sudah usaha keras wajah-wajah tulus itu mengisi rongga-rongga kosong di relung hati kami yang masih begitu rentan ini dengan jutaan kasih sayang.
Pak Satpam mengumpulkan satu persatu baju seragam para setan yang sudah tidak lagi memiliki harga diri itu, kemudian menumpuknya seperti sampah. Lalu dengan tergopoh-gopoh, lelaki tua si penjaga sekolah menjinjing ember besar berisi air dan sebuah gayung yang terhuyung-huyung mengambang diatasnya.
“Rasakan kebodohan kalian ini!” bentak Pak Muksin sambil mengguyur kami sekaligus tanpa ampun dan tanpa terkecuali.
Para siswi itu pun kini tak luput dari eksekusi. Dan dibawah sengatan terik matahari yang seakan ikut menghukum kami dengan menghujamkan sinar siangnya yang begitu ganas membakar kulit kami yang tak tertutupi sehelai bahan pun, kami kuyup tak berdaya.
Aku terus menyeka air yang mengalir di wajahku, para siswi mulai terisak-isak. Kudengar dengan jelas penyesalan yang begitu dalam di antara isak tangis yang terasa makin pilu. Aku tak berani lagi menatap para guru, apalagi Pak Muksin. Sosok yang selalu membuatku takzim luar biasa ketika mencium punggung tangannya yang kekar setiap kali berpapasan. Senyumnya selalu merekah begitu aku menengadahkan wajah menatap matanya yang setajam matahari di pagi yang cerah. Tak terasa, air mataku ikut meleleh dan jatuh bersama tetesan-tetesan air hukuman itu.
Kesedihan ini makin tak terbantahkan ketika sayup-sayup kudengar Pak Muksin terus-menerus mengucap kalimat istighfar.
“Astagfirullah… astagfirullah…,” ucapnya lirih dan menyayat-nyayat kalbuku yang rapuh ini. Begitu getir dan pahit bagi anak yang baru berusia tiga belas tahun.
Air itu ternyata bukan satu-satunya hukuman bagi para laki-laki, kini giliran gunting kecil di tangan kanan Pak Muksin yang beraksi. Memotong, membabat, menelanjangi kepala-kepala batu kami. Helai demi helai rambut-rambut yang lengket oleh bercak-bercak cat beragam warna itu runtuh melayang-layang menuju tanah. Semua yang tak lagi berwarna hitam harus terlepas dari tempurung kami.
Pak Muksin melakukannya tanpa tehnik, tanpa aturan, tidak seperti tukang-tukang cukur di pangkas rambut. Beliau memang tidak pernah belajar bagaimana cara menggunting rambut yang baik sehingga membiarkan sisa-sisa rambut yang masih berwarna asli tetap berada di tempatnya tumbuh. Tak bisa dibayangkan tampang kami ketika itu.
Aku sudah tidak peduli dengan itu, gema istighfar dari mulut Pak Muksin kian jelas dan nyata. Dadaku bergetar hebat ketika tiba giliranku, kurasakan gerakan gunting itu begitu berat dan suara-suara yang mengiringinya begitu miris. Guru Jurumiyah-ku itu seperti tidak rela dan dengan sangat berat hati melakukan tugasnya. Tapi kutahu, itu sebuah konsekuensi yang harus kuterima dengan ikhlas.
Gerakannya lambat tapi tanpa keraguan sedikit pun, menyiratkan besarnya kasih sayang yang hanya menghadirkan pedih yang mendalam. Melihat kenyataan bahwa murid-muridnya telah melemparkan diri ke lapisan paling rendah dan nista. Bahwa setiap kata, nasihat, dan larangannya dipandang seperti angin di malam-malam musim dingin, basah dan menusuk tulang. Dijauhi dan dilupakan. Tapi beliau masih terus berusaha keras untuk menarik kami kembali, meraih kembali kehormatan kami yang luluh lantah.
“Sekarang lihat, apa lagi yang bisa kalian banggakan ketika baju-baju yang kalian anggap penuh kenangan ini sudah tidak lagi bisa melindungi kulit kalian dari sengatan panasnya matahari dan guyuran air? Nanti, di padang Mahsyar, sungguh tidak sehelai pun, Anakku!” suaranya bergetar mengkombinasikan amarah dan kesedihan.
Pak Muksin berhenti karena tak mampu lagi mengendalikan perasaannya. Sementara tangan kanannya menggenggam kuat-kuat derijen minyak tanah. Urat-urat di punggung tangan yang sering kuciumi itu membesar dan berdesir-desir. Beliau menumpahkan isi dirijen ke tumpukan baju kami seutuh-utuhnya sampai tetesan terakhir. Kemudian secepat anak panah yang menusuk jantung Hamzah di perang Uhud, anak korek berapi itu dilemparnya.
Dap! Hanya sekejap, percik-percik api itu membesar dan berkobar. Melalap setiap inci baju seragam kami. Melumat semua kenangan yang tergores di tiap benangnya, melenyapkan esay Ipang untuk selama-lamanya.
“Lihatlah anak-anakku, betapa sia-sia perbuatan kalian!” Pak Muksin mulai bicara lagi. Lebih lantang dan tegas. Seperti kulihat sosok pemimpin besar umat Islam bernama Thariq bin Ziyad sedang berdiri penuh wibawa ketika sedang berusaha menyulut semangat para pasukan perang Islam dengan membakar perahu-perahu yang membawa mereka menyeberangi selat Gibraltar untuk misi penaklukkan dataran Andalusia.
“Kalian lihat, semua kenangan telah hangus terbakar. Tak ada yang perlu diingat lagi. Karena di depan sana, begitu banyak tantangan yang akan kalian hadapi. Terlalu banyak musuh-musuh nyata yang harus kalian taklukkan. Kalau kalian pikir coretan-coretan itu bisa berbuat sesuatu, kalian salah besar. Satu-satunya kenangan yang harus terus kalian bawa adalah ilmu pengetahuan dan segala hal baik yang telah diajarkan para guru di sekolah ini selama 3 tahun.”
Kobaran api yang membakar baju kami makin membara, menambah hawa panas di pelataran Al-Islamiyah. Begitu juga dengan Pak Maksin, kalimat-kalimat yang dilontarkannya makin berapi-api. Menyulut jiwa-jiwa muda kami yang hangus terbakar hasutan hawa nafsu.
“Saat ini kalian berada di sebuah labirin yang meliuk-liuk dengan dinding-dinding dari tumbuhan hidup yang menjulang begitu tinggi, hingga kalian tak tahu ada apa di balik dinding-dinding yang kokoh itu. Maka berpeganglah pada petunjuk orang-orang yang telah melewatinya. Niscaya kalian akan dapat melintasi tiap lorong dengan aman dan leluasa.” Desah nafas Pak Muksin memburu, beliau seperti sedang menatap wajah-wajah kami yang terus menuduk satu persatu.
“Dan kalian hampir saja keluar dari labirin kecil bernama Al-Islamiyah ini. Tapi lihat, apa yang kalian lakukan? Tepat di depan pintu gerbang keluar, kalian malah memutar arah dan mengabaikan petunjuk-petunjuk. Sekarang rasakan akibatnya, karena tidak ada yang tahu kapan kalian bisa sampai di gerbang itu lagi.”
Pak Muksin menutup pembacaan vonis hukuman untuk kami dengan kalimat yang begitu menggetarkan. Kalimat yang terus terngiang-ngiang dan mendengung di otakku sepanjang waktu setelah hari itu. Aku dan keenambelas setan yang tertangkap hari itu dipenuhi penyesalan yang tak mampu lagi dielakkan. Bahwa betapa ketololan kami mengabaikan seruan-seruan dari mereka yang lebih dulu hidup adalah sebuah kesalahan yang terbesar yang seharusnya tak akan pernah kami ulangi lagi. Bahwa setelah lulus dari sekolah ini, sudah menunggu taman labirin yang jauh lebih besar, lebih tinggi, dan lebih penuh misteri. Setelah itu, taman labirin yang jauh lebih besar bersiap-siap menampung kami. Begitu seterusnya sampai kaki-kaki kami tidak mampu lagi melangkah di antara dinding-dinding labirin yang angkuh dan tak mengenal belas kasihan itu.
Hanya rasa cinta, keyakinan dan takzim terhadap seruan-seruan kebenaranlah yang mampu menghantarkan kami sebagai manusia menuju titik akhir dari perjalanan hidup, yakni keridhaan Allah SWT yang berwujud Surga Firdaus.
Tragedi Seorang Calon Abdi Negara
Diposting oleh Firda Sartika di 19.04
Terdengar bisikan lirih dan ayat-ayat doa yang keluar dari bibir seorang ibu yang semenjak kemarin malam larut dalam kecemasan dan kekhawatiran yang begitu mendalam. Tak henti-hentinya dia memanjatkan kalimat-kalimat permohonan kepada pencipta alam ini atas apa yang terjadi pada diriku.
“ Tolong Suster, cairan infus anak saya sudah hampir habis nih !” kata Ibu penuh kecemasan.
Dengan kesabaran suster tersebut menggantikan kantong cairan infus itu dengan yang baru. Memang Suster Rama termasuk salah satu suster yang paling ramah di antara suster-suster yang lainnya.
“Nah Bu, sudah saya ganti ya, nanti kalau ada yang perlu saya bantu, Ibu jangan sungkan-sungkan memanggil saya kembali ya, “ kata Suster Rama dengan tersenyum.
“Terima kasih, Sus,“ sahut Ibu.
Hari demi hari, minggu demi minggu, dengan penuh penantian akhirnya aku diizinkan oleh dokter untuk pulang dengan saran agar supaya aku rutin menjalankan rawat jalan setiap bulannya. Memang penyakit yang aku alami termasuk penyakit kritis dalam dunia kedokteran yakni penyakit tumor jinak otak. Tak henti-hentinya Ibu selalu mengingatkan dalam keseharianku untuk rajin konsumsi obat-obatan dari resep yang telah diberikan oleh dokter.
Dengan kesabaran aku tak pernah absen meminumnya demi kesembuhan dari penyakitku itu. Hanyalah obat itu yang dapat mempertahankan kesehatanku dan seakan-akan seperti dopping sebagai pencegah agar penyakit tersebut tidak semakin parah. Miris memang, seperti kecanduan saja akan obat-obatan tersebut. Tapi hanya itulah cara yang terus diupayakan supaya aku bisa menjalankan aktifitas hidupku seperti biasa. Walaupun demikian adanya, namun dalam hal pendidikan, aku berhasil menyelesaikannya dengan baik dan tidak mengecewakan.
“Hamid, ini loh koper yang kau butuhkan nanti ! “ Ibu memanggil dari ruang gudang belakang rumah.
Ooops, terperanjat Hamid dari lamunan di masa pahitnya itu , yang membuatnya teringat oleh masa kecilnya waktu itu. Sejak kecil dia memang ingin bercita-cita sebagai seorang yang berguna bagi negara. Dan akhirnya cita-cita itu semakin dekat saja rasanya untuk dicapai olehnya. Setelah sekian lama perjalanan hidupnya dalam hal pendidikan, waktu demi waktu telah beranjak naik tingkat demi tingkat.
“Sekarang waktunya aku harus mempersiapkan apa saja yang akan dibutuhkan sewaktu aku tinggal di asrama nanti,” pikir Hamid sambil mengepak-ngepak barang-barang keperluannya.
Besok adalah hari pertama Hamid meninggalkan kampung halamannya yang letaknya lumayan sangat jauh dari asrama pendidikan calon abdi negara tersebut. Suasana hati yang sedih dan gembira bercampur-aduk menjadi satu dalam benak Hamid.
Pagi yang cerah menyambut dan memberikan semangat baru bagi Hamid untuk berjuang dan mengabdi dalam antusiasme yang mulia di masa depan nanti. Ibunya yang selalu rela dengan sabar merawat dan memberikan kasih sayangnya pada Hamid terlihat berbeda saat itu ketika Hamid ingin berpamitan dan memohon doa restu supaya Hamid dapat menjalankan
pendidikannya dengan gemilang. Seakan-akan tak rela melepaskan kepergian sementara untuk mencapai cita-cita yang didambakan oleh Hamid sejak kecil. Hamid pun tertunduk dan tenggelam dalam derasnya air kesedihan untuk meninggalkan ibunya walapun untuk sementara waktu hingga nanti sampai pendidikannya berakhir.
“Bu, maafkan Hamid yang selalu merepotkan selama ini, aku akan pergi untuk mencapai cita-citaku, Ibu. Doakan Hamid agar selalu ingat pada Allah dan mudah-mudahan berhasil dalam pendidikan ini !” kata Hamid dengan penuh isak tangis. Namun dengan hati mantap dan restu ibunya, ia pun melangkah menuju kendaraan pemberangkatan yang sudah menunggunya di depan rumah. Tak lupa pula adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas memberikannya kenang-kenangan sebuah jam weker unik untuk pengingat waktu sholat.
“Kak, ini kenang-kenangan dariku untuk Kakak supaya Kakak akan selalu ingat pada Allah dan di dalam jam weker ini ada MP3 nya juga, jadi mudah-mudahan ini dapat menghilangkan rasa bosan dan penat Kakak setelah menjalankan aktifitas penuh di sana. Aku sengaja pilihkan lagu-lagu kesukaan Kakak loh !” Dengan senyum dan mata berkaca-kaca adiknya seraya menyodorkan kenang-kenangan itu pada Hamid.
“ Terima kasih,Dik ! “ kata Hamid.
“ Jaga diri dan selamat berjuang Kak Hamid,” sahut adiknya.
Ibu yang sedari tadi hanya terdiam seribu bahasa karena tak tahan membendung derasnya air luhnya, terakhir ia hanya sempat mengucapkan kalimat pendek pada anaknya yang sangat disayanginya itu.
“Hati-hati dan selalu ingat Allah ya Nak, “ kata ibunya.
Hari pertama saat berada di asrama, sepertinya masih asing dan membuat Hamid merasa tidak nyaman.
“Ah, ini hanya sementara saja, nanti akan terbiasa juga kok ! “ pikir Hamid dalam hati.
Maklumlah ini pengalaman pertama ia tinggal jauh dari keluarga dan orang tua. Begitu berat dan melelahkan hari-hari yang dilalui oleh Hamid selama disana. Berbagai peraturan dan aktifitas yang wajib ditaati dan dilaksanakan oleh siswa-siswi tersebut. Jalan tempuh pendidikan yang dilaluinya memang sulit baginya. Semua peraturan-peraturan yang telah diterapkan sengaja dibuat bukanlah untuk menjadikan siswa-siswi pendidikan menjadi robot-robot yang sengaja dicetak oleh negara, namun itu adalah untuk melatih mereka akan kedisiplinan dan tanggung jawab supaya tertanam pada jiwa anak-anak didik yang nantinya akan berguna di masa depan kelak.
“Wuih… lelah banget hari ini !” kata Hamid penuh kelelahan sambil menghempaskan tubuhnya dengan keras di atas tempat tidur asrama. Teman sebelahnya bernama Iwan. Dia datang dari jauh tepatnya di pulau Kalimantan. Kedua orang tuanya masih tinggal bersama dengan kedua adik-adiknya yang masih kecil di sana. Iwan anaknya sangat baik, sifat ini sudah terlihat jelas oleh pikiran Hamid sejak perkenalan pertama kali sewaktu ospek kemarin.
“Sudahlah yang sabar Mid, kita ini kan masih baru awal-awal perjalanan di sini,“ kata Iwan seraya menasehati dan mendinginkan pikiran Hamid yang sudah panas.
“Capek banget nih, apalagi tadi aku sebel juga sama kakak pembina yang sangat arogan itu ! ” sahut Hamid dengan wajah sedikit berkerut.
“Aku juga sebal dibuatnya, ya sudahlah yang penting kita istirahat dulu biar besok segar lagi, OK ! “ kata Iwan.
Waktu itu akhirnya suasana menjadi tenang dan mereka pun terlena oleh alunan musik MP3 yang baru dimainkan oleh Hamid Dan kemudian mereka terlelap tidur dengan buaian mimpi-mimpi mereka.
Sudah seminggu setelah menjalani serentetan kegiatan ospek, mereka pun akhirnya berpisah. Entah apa alasannya, Hamid tidak tahu-menahu tentang hal itu. Isyunya ada sedikit kekeliruan administrasi oleh pihak pendidik atas penempatan asrama siswa-siswi tersebut. Namun persahabatan mereka tidaklah pudar walaupun sudah tidak sekamar lagi. Pada kesempatan waktu luang mereka sering mengadakan diskusi maupun hanya sekedar saling curhat seputar permasalahan mereka masing-masing. Sesekali mereka melontarkan kata-kata jenaka dan canda-canda kecil yang membuat suasana sekitar menjadi hidup dan segar. Hamid anaknya humoris, teguh pendirian dan Iwan sedikit konyol dan supel. Kalau mereka bertemu, dijamin semua teman-teman di sekitar merasa senang dan terhibur.
“Dunia terasa sepi , kalau disini tidak ada Hamid dan Iwan ya Teman-teman !“ salah satu teman mereka bergumam.
Seminggu sekali Hamid dan Iwan selalu meluangkan waktu bersama teman-temannya sekedar untuk main-main maupun berdiskusi dengan segala topik di asrama itu. Entah apa saja yang dapat mereka lakukan, sepanjang kegiatan itu positif, bermanfaat dan tidak melanggar peraturan serta mendapat persetujuan dari pihak pendidik, maka sah-sah saja dilakukan.
Dalam beberapa hari kemudian Hamid mengalami nasib yang malang. Dia dan beberapa siswa lainnya telah teraniaya oleh kakak-kakak senior dalam kegiatan ospek. Hanya karena ketika itu Hamid beserta beberapa temannya menundukkan kepala ketika ada salah satu kakak pembinanya memberikan pengarahan. Kakak senior yang dikenal dengan arogansinya itu menendang dan menghantam kepala dengan kerasnya ke arah kepala Hamid yang sedang tertunduk. Tidak ada luka kentara yang terlihat di tubuhnya, namun hantaman keras yang mengenai kepalanya membuat dia sering merasa pusing dan mual setelah kejadian itu. Dan bahkan sesekali dia pingsan di tengah-tengah kegiatannya.
Sungguh kejadian yang tidak berpendidikan. Apakah ini yang dinamakan mendidik? Kegiatan ospek yang seharusnya bertujuan untuk mendisiplinkan para siswa-siswinya, malah menjadi ajang premanisme. Apakah negara akan mencetak algojo-algojo negara atau abdi negara yang akan selalu melayani dan membela negara dengan berdasarkan asas-asas negara ? Ini tak ubahnya seperti oknum pendidik itu merampas dan mencoreng-moreng cita-cita dan tujuan pendidikan itu didirikan.
Mau dibawa kemana dunia pendidikan di negeri kita ini !
Malam setelah tragedi itu, membuat Hamid tidak bisa tidur. Badannya terasa panas dan pusing terus-menerus yang tak terkira rasa sakitnya. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit selama beberapa hari karena rasa pusingnya yang teramat sangat. Setelah menjalani pemeriksaan, akhirnya dokter menyatakan bahwa ada gangguan yang cukup besar pada pembuluh otak Hamid. Berita ini telah membuatnya terkejut dan tidak berani untuk memberitahukan berita itu kepada orang tua dan keluarganya di rumah. Dia tidak tega dan tidak mau merepotkan orang tuanya lagi, apalagi ibunya yang dulu pernah merawatnya di rumah sakit sewaktu kecil dengan penyakit yang sama yakni di sekitar otak.
Namun ini sepertinya sudah lebih parah daripada yang dulu. Teman yang berada sekamar dengan dia sering mengetahui dan mendengarkan keluhan-keluhan yang terucap oleh Hamid. Dia sering mengeluhkan daerah sekitar kepalanya.
Suatu ketika sewaktu Hamid mengikuti upacara bendera di lapangan, tiba-tiba dia pingsan dan hingga tak sadarkan diri selama satu hari penuh. Akhirnya pihak asrama mengirimkan berita itu kepada orang tua Hamid. Dan alangkah terkejutnya saat itu orang tuanya setelah mendengar berita buruk itu. Bergegaslah orang tua dan adiknya berangkat menuju rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak asrama tersebut.
Dengan sisa-sisa nafas yang terakhir, Hamid berpesan pada adiknya untuk terus semangat dalam meraih cita-cita dan menjadi anak yang baik. Dan dia seraya memohon permintaan maaf kepada orang tuanya karena tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya sampai tamat. Sesaat ketika itu suasana menjadi hening dan kemudian isak tangis tersedu-sedu keluar dari mulut seorang ibu yang sangat mencintainya. Linangan air mata seakan-akan mengalir seperti derasnya air bah Tsunami membasahi pipinya. Pupus sudah harapan orang tua Hamid saat itu. Anak yang sangat dibanggakan dan disayanginya meninggalkan mereka dan tak akan kembali di jagat raya ini. Tak ada lagi senyuman, canda tawa dan keberhasilan yang gemilang yang dapat diraih. Entah apa yang mengakibatkan hal itu terjadi pada diri Hamid.
Namun tak lama kemudian orang tua Hamid merasakan suatu keganjalan terjadi yang mengakibatkan nyawa Hamid melayang. Dengan daya upaya orang tua Hamid memperkarakan hal itu ke meja hijau untuk menuntut keadilan dan memberikan pelajaran kepada mereka-mereka yang telah menganiaya anaknya. Dan akhirnya mereka-mereka yang berbuat anarkis itu dijatuhi hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku oleh badan hukum setempat.
Bisakah hukuman tersebut dapat memberikan efek jera pada mereka-mereka? Kita hanya berharap semoga dari kejadian yang menimpa diri Hamid tadi tidak akan terulang kembali di negeri ini.
Tragedi Seorang Calon Abdi Negara
Diposting oleh Firda Sartika di 19.02
Terdengar bisikan lirih dan ayat-ayat doa yang keluar dari bibir seorang ibu yang semenjak kemarin malam larut dalam kecemasan dan kekhawatiran yang begitu mendalam. Tak henti-hentinya dia memanjatkan kalimat-kalimat permohonan kepada pencipta alam ini atas apa yang terjadi pada diriku.
“ Tolong Suster, cairan infus anak saya sudah hampir habis nih !” kata Ibu penuh kecemasan.
Dengan kesabaran suster tersebut menggantikan kantong cairan infus itu dengan yang baru. Memang Suster Rama termasuk salah satu suster yang paling ramah di antara suster-suster yang lainnya.
“Nah Bu, sudah saya ganti ya, nanti kalau ada yang perlu saya bantu, Ibu jangan sungkan-sungkan memanggil saya kembali ya, “ kata Suster Rama dengan tersenyum.
“Terima kasih, Sus,“ sahut Ibu.
Hari demi hari, minggu demi minggu, dengan penuh penantian akhirnya aku diizinkan oleh dokter untuk pulang dengan saran agar supaya aku rutin menjalankan rawat jalan setiap bulannya. Memang penyakit yang aku alami termasuk penyakit kritis dalam dunia kedokteran yakni penyakit tumor jinak otak. Tak henti-hentinya Ibu selalu mengingatkan dalam keseharianku untuk rajin konsumsi obat-obatan dari resep yang telah diberikan oleh dokter.
Dengan kesabaran aku tak pernah absen meminumnya demi kesembuhan dari penyakitku itu. Hanyalah obat itu yang dapat mempertahankan kesehatanku dan seakan-akan seperti dopping sebagai pencegah agar penyakit tersebut tidak semakin parah. Miris memang, seperti kecanduan saja akan obat-obatan tersebut. Tapi hanya itulah cara yang terus diupayakan supaya aku bisa menjalankan aktifitas hidupku seperti biasa. Walaupun demikian adanya, namun dalam hal pendidikan, aku berhasil menyelesaikannya dengan baik dan tidak mengecewakan.
“Hamid, ini loh koper yang kau butuhkan nanti ! “ Ibu memanggil dari ruang gudang belakang rumah.
Ooops, terperanjat Hamid dari lamunan di masa pahitnya itu , yang membuatnya teringat oleh masa kecilnya waktu itu. Sejak kecil dia memang ingin bercita-cita sebagai seorang yang berguna bagi negara. Dan akhirnya cita-cita itu semakin dekat saja rasanya untuk dicapai olehnya. Setelah sekian lama perjalanan hidupnya dalam hal pendidikan, waktu demi waktu telah beranjak naik tingkat demi tingkat.
“Sekarang waktunya aku harus mempersiapkan apa saja yang akan dibutuhkan sewaktu aku tinggal di asrama nanti,” pikir Hamid sambil mengepak-ngepak barang-barang keperluannya.
Besok adalah hari pertama Hamid meninggalkan kampung halamannya yang letaknya lumayan sangat jauh dari asrama pendidikan calon abdi negara tersebut. Suasana hati yang sedih dan gembira bercampur-aduk menjadi satu dalam benak Hamid.
Pagi yang cerah menyambut dan memberikan semangat baru bagi Hamid untuk berjuang dan mengabdi dalam antusiasme yang mulia di masa depan nanti. Ibunya yang selalu rela dengan sabar merawat dan memberikan kasih sayangnya pada Hamid terlihat berbeda saat itu ketika Hamid ingin berpamitan dan memohon doa restu supaya Hamid dapat menjalankan
pendidikannya dengan gemilang. Seakan-akan tak rela melepaskan kepergian sementara untuk mencapai cita-cita yang didambakan oleh Hamid sejak kecil. Hamid pun tertunduk dan tenggelam dalam derasnya air kesedihan untuk meninggalkan ibunya walapun untuk sementara waktu hingga nanti sampai pendidikannya berakhir.
“Bu, maafkan Hamid yang selalu merepotkan selama ini, aku akan pergi untuk mencapai cita-citaku, Ibu. Doakan Hamid agar selalu ingat pada Allah dan mudah-mudahan berhasil dalam pendidikan ini !” kata Hamid dengan penuh isak tangis. Namun dengan hati mantap dan restu ibunya, ia pun melangkah menuju kendaraan pemberangkatan yang sudah menunggunya di depan rumah. Tak lupa pula adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas memberikannya kenang-kenangan sebuah jam weker unik untuk pengingat waktu sholat.
“Kak, ini kenang-kenangan dariku untuk Kakak supaya Kakak akan selalu ingat pada Allah dan di dalam jam weker ini ada MP3 nya juga, jadi mudah-mudahan ini dapat menghilangkan rasa bosan dan penat Kakak setelah menjalankan aktifitas penuh di sana. Aku sengaja pilihkan lagu-lagu kesukaan Kakak loh !” Dengan senyum dan mata berkaca-kaca adiknya seraya menyodorkan kenang-kenangan itu pada Hamid.
“ Terima kasih,Dik ! “ kata Hamid.
“ Jaga diri dan selamat berjuang Kak Hamid,” sahut adiknya.
Ibu yang sedari tadi hanya terdiam seribu bahasa karena tak tahan membendung derasnya air luhnya, terakhir ia hanya sempat mengucapkan kalimat pendek pada anaknya yang sangat disayanginya itu.
“Hati-hati dan selalu ingat Allah ya Nak, “ kata ibunya.
Hari pertama saat berada di asrama, sepertinya masih asing dan membuat Hamid merasa tidak nyaman.
“Ah, ini hanya sementara saja, nanti akan terbiasa juga kok ! “ pikir Hamid dalam hati.
Maklumlah ini pengalaman pertama ia tinggal jauh dari keluarga dan orang tua. Begitu berat dan melelahkan hari-hari yang dilalui oleh Hamid selama disana. Berbagai peraturan dan aktifitas yang wajib ditaati dan dilaksanakan oleh siswa-siswi tersebut. Jalan tempuh pendidikan yang dilaluinya memang sulit baginya. Semua peraturan-peraturan yang telah diterapkan sengaja dibuat bukanlah untuk menjadikan siswa-siswi pendidikan menjadi robot-robot yang sengaja dicetak oleh negara, namun itu adalah untuk melatih mereka akan kedisiplinan dan tanggung jawab supaya tertanam pada jiwa anak-anak didik yang nantinya akan berguna di masa depan kelak.
“Wuih… lelah banget hari ini !” kata Hamid penuh kelelahan sambil menghempaskan tubuhnya dengan keras di atas tempat tidur asrama. Teman sebelahnya bernama Iwan. Dia datang dari jauh tepatnya di pulau Kalimantan. Kedua orang tuanya masih tinggal bersama dengan kedua adik-adiknya yang masih kecil di sana. Iwan anaknya sangat baik, sifat ini sudah terlihat jelas oleh pikiran Hamid sejak perkenalan pertama kali sewaktu ospek kemarin.
“Sudahlah yang sabar Mid, kita ini kan masih baru awal-awal perjalanan di sini,“ kata Iwan seraya menasehati dan mendinginkan pikiran Hamid yang sudah panas.
“Capek banget nih, apalagi tadi aku sebel juga sama kakak pembina yang sangat arogan itu ! ” sahut Hamid dengan wajah sedikit berkerut.
“Aku juga sebal dibuatnya, ya sudahlah yang penting kita istirahat dulu biar besok segar lagi, OK ! “ kata Iwan.
Waktu itu akhirnya suasana menjadi tenang dan mereka pun terlena oleh alunan musik MP3 yang baru dimainkan oleh Hamid Dan kemudian mereka terlelap tidur dengan buaian mimpi-mimpi mereka.
Sudah seminggu setelah menjalani serentetan kegiatan ospek, mereka pun akhirnya berpisah. Entah apa alasannya, Hamid tidak tahu-menahu tentang hal itu. Isyunya ada sedikit kekeliruan administrasi oleh pihak pendidik atas penempatan asrama siswa-siswi tersebut. Namun persahabatan mereka tidaklah pudar walaupun sudah tidak sekamar lagi. Pada kesempatan waktu luang mereka sering mengadakan diskusi maupun hanya sekedar saling curhat seputar permasalahan mereka masing-masing. Sesekali mereka melontarkan kata-kata jenaka dan canda-canda kecil yang membuat suasana sekitar menjadi hidup dan segar. Hamid anaknya humoris, teguh pendirian dan Iwan sedikit konyol dan supel. Kalau mereka bertemu, dijamin semua teman-teman di sekitar merasa senang dan terhibur.
“Dunia terasa sepi , kalau disini tidak ada Hamid dan Iwan ya Teman-teman !“ salah satu teman mereka bergumam.
Seminggu sekali Hamid dan Iwan selalu meluangkan waktu bersama teman-temannya sekedar untuk main-main maupun berdiskusi dengan segala topik di asrama itu. Entah apa saja yang dapat mereka lakukan, sepanjang kegiatan itu positif, bermanfaat dan tidak melanggar peraturan serta mendapat persetujuan dari pihak pendidik, maka sah-sah saja dilakukan.
Dalam beberapa hari kemudian Hamid mengalami nasib yang malang. Dia dan beberapa siswa lainnya telah teraniaya oleh kakak-kakak senior dalam kegiatan ospek. Hanya karena ketika itu Hamid beserta beberapa temannya menundukkan kepala ketika ada salah satu kakak pembinanya memberikan pengarahan. Kakak senior yang dikenal dengan arogansinya itu menendang dan menghantam kepala dengan kerasnya ke arah kepala Hamid yang sedang tertunduk. Tidak ada luka kentara yang terlihat di tubuhnya, namun hantaman keras yang mengenai kepalanya membuat dia sering merasa pusing dan mual setelah kejadian itu. Dan bahkan sesekali dia pingsan di tengah-tengah kegiatannya.
Sungguh kejadian yang tidak berpendidikan. Apakah ini yang dinamakan mendidik? Kegiatan ospek yang seharusnya bertujuan untuk mendisiplinkan para siswa-siswinya, malah menjadi ajang premanisme. Apakah negara akan mencetak algojo-algojo negara atau abdi negara yang akan selalu melayani dan membela negara dengan berdasarkan asas-asas negara ? Ini tak ubahnya seperti oknum pendidik itu merampas dan mencoreng-moreng cita-cita dan tujuan pendidikan itu didirikan.
Mau dibawa kemana dunia pendidikan di negeri kita ini !
Malam setelah tragedi itu, membuat Hamid tidak bisa tidur. Badannya terasa panas dan pusing terus-menerus yang tak terkira rasa sakitnya. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit selama beberapa hari karena rasa pusingnya yang teramat sangat. Setelah menjalani pemeriksaan, akhirnya dokter menyatakan bahwa ada gangguan yang cukup besar pada pembuluh otak Hamid. Berita ini telah membuatnya terkejut dan tidak berani untuk memberitahukan berita itu kepada orang tua dan keluarganya di rumah. Dia tidak tega dan tidak mau merepotkan orang tuanya lagi, apalagi ibunya yang dulu pernah merawatnya di rumah sakit sewaktu kecil dengan penyakit yang sama yakni di sekitar otak.
Namun ini sepertinya sudah lebih parah daripada yang dulu. Teman yang berada sekamar dengan dia sering mengetahui dan mendengarkan keluhan-keluhan yang terucap oleh Hamid. Dia sering mengeluhkan daerah sekitar kepalanya.
Suatu ketika sewaktu Hamid mengikuti upacara bendera di lapangan, tiba-tiba dia pingsan dan hingga tak sadarkan diri selama satu hari penuh. Akhirnya pihak asrama mengirimkan berita itu kepada orang tua Hamid. Dan alangkah terkejutnya saat itu orang tuanya setelah mendengar berita buruk itu. Bergegaslah orang tua dan adiknya berangkat menuju rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak asrama tersebut.
Dengan sisa-sisa nafas yang terakhir, Hamid berpesan pada adiknya untuk terus semangat dalam meraih cita-cita dan menjadi anak yang baik. Dan dia seraya memohon permintaan maaf kepada orang tuanya karena tidak bisa lagi melanjutkan pendidikannya sampai tamat. Sesaat ketika itu suasana menjadi hening dan kemudian isak tangis tersedu-sedu keluar dari mulut seorang ibu yang sangat mencintainya. Linangan air mata seakan-akan mengalir seperti derasnya air bah Tsunami membasahi pipinya. Pupus sudah harapan orang tua Hamid saat itu. Anak yang sangat dibanggakan dan disayanginya meninggalkan mereka dan tak akan kembali di jagat raya ini. Tak ada lagi senyuman, canda tawa dan keberhasilan yang gemilang yang dapat diraih. Entah apa yang mengakibatkan hal itu terjadi pada diri Hamid.
Namun tak lama kemudian orang tua Hamid merasakan suatu keganjalan terjadi yang mengakibatkan nyawa Hamid melayang. Dengan daya upaya orang tua Hamid memperkarakan hal itu ke meja hijau untuk menuntut keadilan dan memberikan pelajaran kepada mereka-mereka yang telah menganiaya anaknya. Dan akhirnya mereka-mereka yang berbuat anarkis itu dijatuhi hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku oleh badan hukum setempat.
Bisakah hukuman tersebut dapat memberikan efek jera pada mereka-mereka? Kita hanya berharap semoga dari kejadian yang menimpa diri Hamid tadi tidak akan terulang kembali di negeri ini.
Blog archive
-
▼
2011
(20)
-
▼
Desember
(17)
- Bunga
- Biodata Personel SMASH
- Ketegangan mencekam
- Seorang pemuda dan Hitler
- Dikasih uang jajan
- Hitam segalanya
- Indonesia tetep canggih
- Kamu mengaku saja
- Kebiasaan Makan di Pesawat
- Murid SD Dengan Gurunya
- Tanpa judul
- Labirin Kecil
- Tragedi Seorang Calon Abdi Negara
- Tragedi Seorang Calon Abdi Negara
- Sang Pengawas Ujian
- Kilasan Hati Pak Guru Ahmad
- Cerpen Sekolahku di bawah Lembah
-
▼
Desember
(17)
Powered by WordPress
©
Firda Sartika - Designed by Matt, Blogger templates by Blog and Web.
Powered by Blogger.
Powered by Blogger.
